Senin, 13 Mei 2013

feature,SAKITPUN,TAK MEMBUATNYA ABSEN DARI KEWAJIBANNYA

Diposting oleh imadzaqi alyahasan di 01.19
Reaksi: 
0 komentar
belum genap seminggu aku kehilangan sesosok ibu. makul jurnalistik cetak tlah sampai pada materi features. dan mengharuskan mahasiswanya membuat feature dengan topik seorang ibu. perasaanku nyinyir saat itu. antara sedih dan bingung. sedih karna sudah tak ada lagi sosok itu dan bingung bagaimana mengatasinya. sampai pada minngu berikutnya tugaspun harus dikumpulkan. aaku masih belum mengerjakanya. tapi aku masih beruntung karna dosenya absen kali itu. sampai pada kmrin mlam kaupun masih belum memiliki feel yang tepat untuk menuliskanya. entah karna aku takut mataku mengeluarkan airmata yang menganak sungai. tapi ketika pagi tiba kau hanya mencoba menuliskanya. i just try to write it :

Langit di rabu pagi itu terlihat sangat cerah. Orang – orang yang berlalu lalang mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya pun masih tersisa beberapa. Masih jelas terlihat rona kesedihat di mata suami dan anak – anaknya. Hari hari yang amat panjang pun menyambut mereka tanpa didampingi sesosok wanita tegar bernama ‘Aliyyah. Ya. Aliyyah nama yang sederhana namun memiliki makna yang snagat terhormat,”tempat yang paling tinggi”. Setinggi kedudukanya sebagai seorang ibu. Ia lahir di kota udang 4 november 57 tahun silam. Kemudian melanjutkan kehidupanya di kota indramayu sebagai seorang ibu dari sembilan anaknya. Ia  adalah seorang ibu yang sangat sederhana, selalu menganakan “tapih” dan baju yang ia bikin sendiri. Ia tak seperti ibu – ibu kebanyakan yang selalu berhias dan ngerumpi bareng dengan teman – teman sebayanya di warung atau perkumpulan ibu – ibu lainya. Tiap hari ia menghabiskan harinya hanya dirumah saja. Hampir tak pernah kluar sama sekali. Terkecuali ada kepentingan yang memang mengharuskanya keluar rumah. Ia mendidik sembilan anak – anaknya dengan disiplin kemiliteran. Ya. Tegas. Tanpa dimanja. Karakternya yang demikian yang membuat anak – anaknya sangat segan dan patuh terhadapnya. Tugasnya sama seperti ibu – ibu kebanyakan. Mendidik anak hingga anaknya dewasa.  Didikanya tak tanggung – tanggung. Ia akan mengeraskan suaranya ketika ada salah yang dikerjakan anaknya.  ia selalu mengajarkan anaknya bisa membaca Al Quran dari usia yang sekecil mungkin. Motifasinya hanya satu. Ingin melihat anak anaknya sukses denganjalan yang ditempuhnya masing – masing. Ia yang sangat perfeksionis mengharuskna anak –anaknya melakukan semua kegiatan dengan benar. Tanpa salah sedikitpun. Harus. Terlebih persoalan ibadah.
            Namun setahun belakangan ia terlihat mulai melamun dari hari kehari. Penyakit dan kondisi psikologis yang kurang baik  yang ia alami sekarang membuat aura muka dan fisiknya lemah dan berbeda seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Gula darah yang menggerogoti tubuhnya memaksa ia tak bisa melakuakan hal sekecil apapun. Ya,tubuhnya kini harus selalu di topang dengan kursi roda. Setengah tubuhnya terkena struk akibat penyait tersebut. dengan kondisinya yang demikian tak membuatnya absen dalam melakukan ibadah. Ketika ia batal pun ia meminta seorang anak nya untuk mengantarkanya kembali ke kamar mandi dan melakukan wudlu yang berulang. Meskipun kondisinya sangat tak memungkinkan untuk melakukan kegiatan apapun,namun ia masih rutin melakukan sholat di sepertiga malamnya. Pernah suatu ketika ia memaksa seorang anaknya untuk mengantarnya wudlu dan kemudian mengambil alquran,sampai pada halaman depan ia menangis bak seorang anak kecil yang kehilangan lollipopnya. Ya ,ia menangis karna mulut dan otaknya sudah tak kuasa membaca dan melantunkan ayat –ayat suci. Padahal sebelum tubuhnya demikian,tiap waktu sehabis sholat ia habiskan dengan membaca Al Quran di ruang tengah. Kian hari penyakitnya menggerogoti semua badanya. Tubuhnya sudah sangat jauh kurus dibanding kan saat ia sehat. Wajahnya terlihat sangat pucat dan mulutnya tak mampu lagi untuk menelan sebutir nasi. Dalam kurun waktu satu tahun itu pun keluarga berusaha untuk mengobatinya dengan harapan bisa sembuh seperti sedia kala. Dari mulai medis hingga aalternatif. Tak ada yang mampu mengobatinya.
            Sampai pada tiba waktunya,kondisinya sudah sangat enghawatirkan dan keluarga memutuskan untuk membawany ke rumah sakit. Dokter menyarankannya untuk langsung masuk ICU karna memang sudah tak memungkinkan untuk rawat inap biasa. Di ruang IGD Saat itu,ia terlihat mencari – cari pegangan tangan. Seolah takut ditinggalkan oleh anaknya. ia dengan sangat bersusah payanhnya mencari genggaman itu karna banyak alat – alat yang masuk ke dalam tubuhnya. Matanya terus mengeluarkan sungai kecil itu. Air matanya mengalir. Matanya berbicara seolah ia tak ingin jauh dari keluarganya. Seorang anaknya yang menemaninyapun tak kausa menahan tangis melihat ibu nya demikian. Tak tahu obat apa yang dimasukan kepadanya,yang jelas ia terlihat tidur pulas di ruang ICU itu. Dua malam berada di rumah sakit tersebut memutuskan agar keluarga membawanya kembali kerumah. Terlebih suaminya sangat inging teru berada disampingnya untuk setiap saat melantunkan ayat suci di telinganya. Sore menjelang magrib 23 april. Terlihat rumahnya sepi dan hanya ada dua orang anak dan suaminya dan beberapa tamu yang tengah menjenguk Aliyyah. Pulang dari rumah sakit membuatnya tak mendapatkan perawatan apapun. Tubuhnya panas tinggi dan Hanya tabung oksigen yang membantunya untuk bernafas. Namun sore itu ketika salah seorang anak memegang telapak kakinya. Ia hanya membatin dalam hati “dingin”. Namun anaknya masih optimis dengan masih adanya aharapan hidup untuk ibunya. Ketika salah satu anaknya keluar untuk menjemur pakaian. Tiba – tiba kegaduhan terjadi dari dalam rumahnya. Ia sontak lari dan ternyata ibunya terlihat akan mengehembuskan nafas terakhirnya. Ia lari mencoba mencari sodaranya yang lain. Sampai pada masanya, suaminya mencoba membisikan kalimat”laa ilaaa haa illallaah di telinganya”. Ia pun menutup mata di sore hari menjelang magrib itu. Manusia boleh saja berusaha sekuat tenaga,namun tetap tuhan yang mampu memutuskan di atas segalanya. Selamat jalan,selamat datang surga dan kehidupan yang hakiki. 

Sabtu, 11 Mei 2013

kita

Diposting oleh imadzaqi alyahasan di 01.00
Reaksi: 
0 komentar

'Kita hidup bersama dalam kebahagiaan yang panjang, maka janganlah kau tidur kecuali diatas pangkuanku
 

kanvas coratcoret Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea